Aurora



AURORA
PART 1
          Pagi ini hujan pertama bulan September. Tetesnya yang turun kunikmati dari balik jendela kamar. Derasnya tampak syahdu menerpa atap dan pagar rumah. Teh hangat yang tersaji bersama onde-onde buatan Mbok Dar  mulai dingin di atas meja belajar.
        Hujan pagi ini membuatku mengurungkan niat untuk berangkat ke kampus. Tapi inilah aku si penikmat hujan, aku tak pernah mengumpat saat tetesnya turun ke bumi menghambat aktivitasku. Bagiku, hujan adalah anugerah dan patut disyukuri. Tetesnya akan mendinginkan egoisme manusia agar luntur dan membuat hati kembali tenang. Sambil menikmati tetesnya yang kian menderas di luar rumah, aku membaca buku.
        Aku Ara, Aurora Rachel Salsabila. Saat ini mengenyam bangku kuliah semester tiga, di prodi psikologi. Jurusan ini kupilih karena suatu hal unik yang terjadi dimasa lalu. Ya, ketika aku SMA. Aku diberi hadiah oleh seseorang. Sebenarnya simple. Hanya sebuah novel yang menceritakan dunia psikologi. Entah mengapa, sejak itu. Aku semakin suka dan penasaran dengan dunia Psikologi.
        Seperti pagi ini, hujan pertama di bulan September. Kunikmati tetesnya yang turun sambil membaca buku novel Psikologi yang sudah kusam ini. entah berapa ratus kali aku membacanya, aku tak pernah bosan. “kau apa kabar?”, tanyaku lirih dalam hati. Yah, semenjak perpisahan di toko buku waktu itu aku tak pernah bertemu denganmu lagi. “kau dimana sekarang?”, bahkan aku tak punya kontak yang bisa menghubungkan denganmu. Berkat novel ini, kau mampu mengubah tujuan hidupku. Aneh. Pada awalnya aku sangat ingin menjadi Mahasiswi Sastra Indonesia, tapi tujuan itu berubah karena hadiah sweet seventeen yang kau berikan.
        Apa mungkin saat ini kau menjadi Mahasiswa Psikologi sepertiku?. Kalau iya, kuterka kau sudah semester lima. Dimanapun kau berada semoga Tuhan selalu melindungimu.
        Hujan masih deras diluar sana. Aku tak melanjutkan membaca buku pemberianmu. Justru yang kulakukan adalah menikmati kenangan. Ah, andai kau disini. Aku pasti leluasa berdiskusi tentang dunia Psikologi denganmu. Mencarimu pun aku tak tahu harus kemana. Lantas semua ini salah siapa?. Kurasa salah kita berdua. Setelah kau lulus SMA dan memberikan novel ini padaku di pertemuan terakhir kita, kau tak pernah muncul lagi.
        Pertemuan pertama denganmu cukup unik. Berawal dari di toko buku. Kalau diingat rasanya lucu, hanya karena sebuah serial komik yang tinggal satu di toko buku itu akhirnya kita membuat kesepakatan untuk suit, siapa yang menang dialah pemilik komik itu. Sialnya, kaulah yang jadi pemenang.
        Lantas pertemuan-pertemuan berikutnya selalu berhubungan dengan buku. Kita selalu bertemu di toko buku ataupun perpustakaan wilayah. Pertemuan kita seperti acara bedah buku, membahas macam-macam serial komik, buku ilmiah, novel ataupun buku pelajaran sekolah. Kau tampak antusias jika membahas psikologi dan cerita dongeng Puteri Nirmala. Aku pernah berpikir, kau adalah sosok Peri dari dunia Puteri Nirmala yang tersesat di bumi.
        Sampai dihari itu, ketika ulang tahunku ke tujuh belas dan kau merayakan selebrasi perpisahan di sekolahmu. Malamnya kita bertemu di toko buku. Malam itu kau berjanji akan memberi hadiah sebuah buku yang katamu special. Dan ternyata benar, buku ini tak sekedar special, tapi ajaib karena mampu mengubah hidupku. Kau mengubah bukan dengan tongkat ajaib Puteri Nirmala yang kau kagumi. Tapi dengan sebuah buku, yang mengalirkan semangat dan rasa penasaranku tentang PSIKOLOGI.
        “kenapa harus Psikologi?”, tanyaku. “jangan bertanya, lebih baik kau nikmati tiap lembarnya. Nanti juga paham”, ujarmu dengan tatapan dingin. Dan malam itu menjadi berakhir dengan ucapan “Semoga kau menjadi pribadi tangguh dimasa depan”. Lalu kita keluar dari toko buku dan berpisah, itulah pertemuan terakhir kita.
        Aku tak pernah tahu kau akan kuliah dan melanjutkan cita-citamu di kota mana. Yang aku tahu hanya kau sangat menyukai tentang Psikologi dan serial dari Negeri Dongeng. Akankah kau mengambil Prodi Sastra?. Kalau iya, berarti kita bertukar impian. Lewat buku yang kau berikan aku terjebak dalam rasa penasaran. Yang pada akhirnya aku memutuskan mengambil jurusan Psikologi.
        Email yang ku kirim sejak pertemuan terakhir itu tak pernah sampai. Tidak hanya itu, email itu sudah ditutup oleh si empunya, yaitu kamu. Ada rasa penasaran sampai kini. Sebenarnya ada apa?. Kenapa kau menutup akun emailmu. Adakah yang salah dengan pertemanan kita waktu itu. Apakah kau baik-baik saja?. Sejak kepergianmu aku menjadi penikmat kenangan.
        Kalau rindu aku selalu mendatangi toko buku dan perpustakaan, tempat kita menghabiskan hari minggu. Yang ku ketahui tentangmu hanyalah kau si penggila psikologi dan serial negeri dongeng. Kau siapa, dimana rumahmu, aku tak tahu.
        Ketika kutanyakan semua informasi tentangmu, kau hanya tersenyum dan menjawab “cukup satu kejadian yang akan mengingatkanmu tentang seseorang”. Dan kenangan itu kuterka adalah pertemuan pertama kita di toko buku saat memperebutkan sebuah komik. Bahkan customer service yang menjadi juri dari pertarungan kecil-kecilan demi memperebutkan komik itu sampai kini masih mengingatku.
        Aku tersenyum jika mengingat semua itu. Dan hujan diluar rumah sudah reda. Aku bergegas keluar rumah menuju kampus.
^^
        Sampai di kampus aku langsung ke perpustakaan. Hari ini aku akan mencari materi bahan presentasi makalah individu mengenai dampak kekerasan terhadap Psikologi anak. Kutelusuri rak-rak buku psikologi. Aroma kertas buku-buku itu khas tercium. “coba ada kamu disini, pasti semua akan lebih mudah, dan presentasiku akan menarik karena bantuanmu”, gumamku. Ah tidak, jika kau ada disini aku tak akan menjadi pribadi tangguh dan mandiri. Aku pasti akan ketergantungan dengan bantuanmu. Dan yang pasti aku akan menyita seluruh waktumu untuk tugas-tugas psikologiku. Itu artinya harapanmu bahwa aku menjadi pribadi tangguh dimasa depan gagal total. Tapi kau juga jahat, sejak kepergianmu aku menjadi penikmat kenangan.
        Kadang aku berpikir, kau itu orang asing. Bahkan aku tak tahu siapa namamu. sementara kita sering bertemu enam bulan terakhir jelang kelulusan masa putih abu-abumu. Selama pertemuan kita aku hanya memanggilmu dengan sebutan lelaki hujan (itu alamat emailmu).
        Ah kenapa lagi-lagi aku menikmati kenangan, sementara tujuanku di perpustakaan ini mencari bahan presentasi.
        “Ara..”. panggil seseorang dibalik punggungku.
        “eh Mia”. Aku menoleh ke belakang. Mia teman sekelasku.
        “nyari bahan presentasi?”.
        “iya nih, tapi udah dapat kok”. Ujarku.
        “tapi aku perhatiin dari tadi, kamu itu ngelamun. Hayo mikirin apa?”. Dasar anak Psikologi, tahu aja aku lagi ngelamun.
        “gak usah ngedumel, aku tahu kok. Hihi..” godanya. Aku hanya tersenyum dan melangkah ke bagian peminjaman.
        “Ara..”. Mia masih penasaran tentang lamunanku tadi. Aku memandangnya.
        “aku perhatiin nih ya. Dari awal kita kenal kamu itu selalu bawa buku kucel itu kemana-mana. Jimat apa gimana sih?”. Mia selalu penasaran mengenai buku pemberianmu.
        “iya ini jimat yang bikin aku masuk Psikologi dan punya teman super kepo kayak kamu”, godaku. Mia hanya ngedumel tidak puas dengan jawabanku.
        Keluar dari perpustakaan Mia masih mengekoriku. “mau kemana lagi?”. Tanya Mia. “kalau gak ke toko buku ya pulang”. Jawabku.
        “mau beli buku dongeng lagi?”. aku pun tersenyum mendengar pertanyaan Mia.
        “Ara.. Ara. Kamu tuh cocoknya ambil jurusan Pendidikan Anak Usia dini. Suka banget sama serial dongeng. Sadar Ara, kamu itu udah gede”. Ya itulah Mia. Teman ajaibku di kampus. Pribadinya riang dan selalu menghibur dengan segudang kecerewetannya.
^^
        Mendung pertama di bulan September masih menghiasi langit. Aku menyusuri trotoar menuju halte Bus Trans di kampus. Kuputuskan untuk pulang kerumah saja.
        Sampai di rumah hujan kembali menyambagi. Tetesnya menderas, seolah mengatakan padaku “selamat bersedu sedan dengan kenangan”.
        Aku menuju meja belajar di kamar. Kumakan onde-onde yang tadi pagi tak sempat kunikmati. Ternyata menikmati onde-onde lebih nikmat dari pada bersedu sedan dengan kenangan saat hujan turun. Sementara teh hangat buatan Mbok Dar sudah dingin menguap sejak hujan tadi pagi.
        Bahkan saat menikmati onde-onde dan hujan kenangan tentangmu masih bandel memanggil-manggil. Semoga kau baik-baik saja dimanapun kau berada.

Komentar