Daily Life

seperempat abad sudah aku menghirup udara bumi, sejak aku
lahir dari kandungan Ibu. Menapaki tiap jejak langkah yang menjadikan aku
tumbuh dewasa. Aku ingat. Ketika kecil aku sangat ingin cepat tumbuh dewasa.
Dalam pikiran aku kecil dulu, tumbuh menjadi dewasa itu menyenangkan, bisa
melakukan apa saja yang kita mau. Bisa leluasa menanggapi pembicaraan orang
lain, tidak menjadi pendengar pasif. Dulu, dalam pikiranku. Dewasa itu
menyenangkan.
Tapi ketika waktu membuat aku semakin tumbuh, beriringan
dengan berkurangnya jatah nafasku. Akhirnya aku mendewasa. Tapi apa yang
terjadi?. Aku tidak sepenuhnya suka menjadi dewasa. Menjadi dewasa dalam
pikiran aku kecil dulu tidak semenyenangkan yang terbayang. Justru, dengan
menjadi dewasa banyak ketakutan-ketakutan timbul. Masalah yang terkadang
membuat stress, belum lagi jika akan melakukan sesuatu harus dipikir panjang.
Karena tenyata menjadi dewasa banyak aturan. Rasanya sangat bodoh jika
bertindak sembrono. Pada tahap ini, aku rindu, aku yang kecil dulu.
Waktu menjadikanku dewasa. menyeretku ke beberapa tempat
untuk menggali potensi menuju cita-cita. Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Kuliah. Aku berpindah-pindah tempat.
Membuatku banyak mengenali ragam budaya dan kebiasaan. Tumbuh dalam adat
istiadat berbeda-beda. Tapi aku bangga menjadi aku si perkelana. Bangga menjadi
bangsa Indonesia yang punya ribuan suku,bahasa, dan budaya.
Menjadi dewasa juga membuatku pusing. Ketika waktu menyeretku
ke umur seperempat abad. Orang-orang sekeliling memiliki pertanyaan sulit, diajukan
kepadaku. Mereka entah kompromi atau bagaimana. Dengan pertanyaan yang selalu
sama, meskipun beda orang yang bertanya. Pertanyaan itu tidak jauh-jauh dari
“kapan selesai kuliah?, kapan wisuda?, kapan nikah?, sudah ada calonnya belum?,
orang mana?”. Jujur ini sungguh membuatku pusing. Aku berpikir. Apakah sebelum
pertanyaan itu terlontar, mereka tidak berpikir dulu?, seharusnya ya.
Seharusnya yang dipikirkan bagaimana perasaanku ketika ditanya itu. Aku paham,
mereka tidak merasakan apa yang kurasa.
Aku dewasa ternyata beda dengan aku kecil. Aku dewasa tumbuh
pendiam. Segala yang kurasa tertuang dalam tulisan-tulisan amatir. Mencoba merangkai
sebisaku. Aku suka menganalisis segala sesuatu, kemudian tertuang dalam
tulisan. Dan setelahnya tersimpan rapi dalam dokumen Microsoft Word komputer.
Kubaca sendiri, kunikmati sendiri. Tanpa orang lain tau, inilah hobiku. Aku
selalu berharap dan berangan. Bahwa aku yang nanti semakin dewasa, seiring
berkurangnya umur. Aku tumbuh menjadi penulis. Wah, ini impianku dari kecil.
Aku selalu berangan, mereka suka dengan tulisan-tulisanku. Menanti-nanti
tulisan apa selanjutnya yang kutulis.
aku tidak berharap menjadi terkenal. Aku hanya berharap tulisanku
menginspirasi banyak orang untuk menuliskan kisah-kisah perjalanan hidup
mereka, terangkai indah dalam sebuah buku. Saling berbagi kisah melalui
tulisan. Seru bukan?.
Dan diseperempat abad umurku ini, aku masih selalu mencari
dan menantimu. Bukankah dulu kita saling kenal dan dekat di alam sebelum dunia?.
Kau pasti tau, Lauhul Mahfudz. kita disana dulu. Apakah kau lupa bagaimana
kisah kita?. Ataukah kau juga sama seperti aku, lupa bagaimana rupa dan siapa
dirimu?. Aku tidak mengerti, kenapa Tuhan membuat ingatan kita menghilang saat
kita dilahirkan ke dunia. mungkin itulah alasan saat pertama kali aku mencium
aroma dunia, aku menangis. Bukankah segala sesuatu ada sebab akibat?. Yah,
sebab kita mengambil konsekuensi untuk hadir di dunia. akibatnya kita berpisah,
dan kita saling dibuat lupa. Seolah yang telah terjadi sebelum kita lahir ke
dunia tidak pernah terjadi. Lenyap dalam hitungan detik, atas kuasa-Nya.
Aku menyadari, bahwa kita satu. Meskipun lahir dari rahim
berbeda. Mungkin juga beda suku,budaya dan adat istiadat. Aku juga sadar bahwa
sejak kita berpisah saat dilahirkan ke dunia, sebenarnya itulah titik awal kita
saling mencari. Setelah ingatan kita di
Lauhul Mahfudz dihapuskan. Aku juga lupa bagaimana cara Tuhan melenyapkan
bentuk kenangan kita, bagaimana kita akhirnya saling lupa. Apakah ada prosesnya?,
sebagaimana aku melihat serial Drama Korea, bahwa sebelum seseorang menuju
kehidupan selanjutnya, orang tersebut harus melupakan kehidupan di dunia yang
saat ini dijalani, dengan cara meminum secangkir teh. Benar-benar akan terlahir
kembali dalam keadaan suci. Tidak ada ingatan yang tersisa dari kehidupan
sebelumnya. Kurasa memang iya, dan kuyakini tidak ada yang tidak mungkin jika
Tuhan sudah mengucapkan “Kun Fayakun”.
Saat “Kun Fayakun” Tuhan terjadi, maka jadilah ia. Kita lahir
ke dunia. dipisahkan untuk saling mencari. Entah aku atau kau duluan yang lahir. Terlahir dari rahim
berbeda. Beda kebiasaan, dan mungkin juga beda budaya. Kita tidak bisa memilih
dari ibu mana dilahirkan, dari orang tua seperti apa yang mendidik, dan dari
lingkungan bagaimana. Sepahamku, semua orang tua akan mendidik anak-anaknya
menjadi pribadi yang tumbuh dewasa dengan baik, menaati norma dan adat
istiadat. Patuh terhadap perintah Tuhan, dan menjauhi larangan-Nya. Aku
percaya, setiap orang tua akan memberikan kehidupan terbaik untuk anak-anaknya.
Walau terkadang keadaan dan waktu membuatnya tidak sejalan. Kadang diatas,
kadang dibawah.
Sudah kukatakan. Bahwa kita sebenarnya satu. Walau saat ini
kita dipisahkan untuk waktu sampai “Kun Fayakun-Nya” kembali menyatukan. Satu
berarti bukan dua. Kita satu yang dipecah menjadi dua untuk sementara, kemudian
disatukan lagi. yang jelas, bagaimana sifatku itulah juga sifatmu. Bagaimana
kebiasaanku itulah kebiasaanmu pula. Maka dalam firman-Nya dikatakan “ jika ingin jodoh yang baik, maka
perbaikilah dirimu”. Sebab jodoh itu diciptakan dari kaum kita sendiri,
agar kita tidak merasa asing. Aku percaya bahwa menjadi baik, Insya Allah kau
akan baik juga. Karena kau adalah aku. Dan aku adalah dirimu.
Aku minta maaf, dalam perjalanan mencarimu aku ‘pernah’ di
jalan yang salah. Ini kusadari seiring waktu yang membuatku berpikir dewasa.
Dulu, beberapa saat aku terlena dengan dunia, mencarimu di jalan yang salah. Aku
bersyukur, bahwa dijalan salah itu aku tidak menemukanmu yang sesungguhnya
kucari selama ini. beberapa orang kutemui, kuterka itu adalah dirimu. Tapi kau
pasti tau, Tuhan Maha Baik. Beberapa kejadian tidak mengenakkan akhirnya
membuatku sadar bahwa aku seharusnya tidak mencarimu di jalan tersebut.
Sekarang, angin musim penghujan sudah berhembus. Aku
menyadari segalanya. Untuk menemukanmu yang baik. Aku harus menjadi baik pula. Aku
tidak akan mencarimu diluaran sana. di pusat keramaian, tepi jalan, apalagi
tempat hiburan. Tidak! Aku tidak akan pernah mencarimu di tempat-tempat
tersebut. Kau tau dimana aku akan mencarimu?. Aku akan mencarimu di dalam
doa-doaku, dalam sujud dan sholatku. Aku mencarimu kepada Yang menciptakan
kita, Yang memisahkan kita dan nantinya akan mempertemukan dengan Ridho-Nya.
Aku percaya, segala sesuatu yang diawali dengan niat baik, Insya Allah akan
berjalan baik sesuai prosesnya. Semoga kita satu pikiran.
Wahai engkau, yang dulu kita satu lalu dengan “Kun
Fayakun-Nya” dipisahkan sementara. Aku selalu berdoa pertemuan kita akan segera
tiba. Aku tak tau kini engkau dimana, siapa, dan bagaimana. Tapi aku selalu
merindukan kehadiranmu. Memikirkanmu terkadang membuat mataku menangis. Aku
merindukan bagaimana kelak pertemuan pertama kita. Bagaimana harunya kita saat
sudah saling menemukan.
Yang bisa kulakukan saat ini, sebelum aku tau kau dimana,
siapa dan bagaimana. Aku hanya bisa berdoa kepada-Nya. Semoga kau juga dalam
proses menjadi pribadi lebih baik. Aku menuntut itu. Karena kau kelak adalah
Imamku, nahkoda yang akan membawaku ke Pulau indah, atau karam karena salah
arah terjerumus dalam lautan api di kehidupan selanjutnya. Sungguh, aku tidak
mau jika di kehidupan selanjutnya kelak kita berpisah lagi. aku tidak mau pergi
ke lautan api. Sekalipun itu tetap bersama. Aku ingin ke pulau indah itu. Bukan
lautan api menyala-nyala yang dijaga oleh malaikat menyeramkan dan tidak ramah.
Tidak ya habibi. Aku tidak mau tinggal dalam lautan api.
Kuatkan imanmu,
istiqomahkan dirimu. Begitupun aku. Semoga pertemuan kita segera tiba. Dengan
jalan dan proses yang baik. Pertemuan dan proses atas ridho dan restu-Nya. Aku
menunggu halalmu. Aku percaya, cinta dan kasih sayang dalam balutan halal akan
membawa keberkahan dalam hidup.
Pekanbaru, 23.04.17 | 11:53
Komentar
Posting Komentar